Askep Pada Pasien Dengan Masalah Kpd Lengkap, Download Pdf Dan Doc

Teman - sahabat sejawat sekalian, tak henti-hentinya kami selalu setia membantu meringankan kiprah para teman-teman perawat sekalian, dengan menyediakan askep lengkap dengan laporan pendahuluan. Agar supaya sahabat sekalian sanggup cepat menuntaskan kiprah yang diberikan pada dikala akademik maupun profesi. Termasuk kali ini, kami bagikan askep ketuban pecah dini (KPD) yang merupakan sebuah kiprah keperawatan ihwal suatu keadaan pada ibu hamil dimana ketuban pecah sebelum proses persalinan berlangsung.

askep KPD yang kami bagikan ini sangat lengkap mulai dari laporan pendahuluan hingga asuhan pada pasien dengan contoh perkara ketuban pecah dini, yang bisa didownload dalam bentuk makalah format pdf dan doc. Tak hanya itu kami juga sediakan pathway dalam format doc yang bisa diedit sehingga memudahkan untuk diedit sesuai dengan diagnosa keperawatan yang akan ditarik. askep ini juga kami susun menurut refferensi terpercaya yang kami sertakan juga pada daftar pustaka.

Askep Pada Pasien Dengan Kasus KPD 

Laporan Pendahuluan



Pengertian


Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung. Ketuban pecah dini disebabkan oleh lantaran berkurangnya kekuatan nmembran atau meningkatnya tekanan intra uteri atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan membrane disebabkan adanya nanah yang sanggup berasal dari vagina serviks. (Sarwono Prawiro, 2002)

Ketuban pecah dini merupakan pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan dan dinantikan satu jam sebelum dimulainya tanda persalina, waktu semenjak pecah ketuban hingga terjadi kontrasi rahim disebut insiden ketuban pecah dini (periode laten ). (Ida Bagus Manuaba EGC, 1998)

Ketuban pecah dini merupakan dilema penting dalam obstetric terkaitan dengan penyulit kelahiran premature dan terjadinya nanah khorioamnionitis hingga sepsis yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinata, dan menyebabkan nanah ibu. (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2001)

Ketuban pecah dini atau sponkaneous/early/premature rupture of the membrane (PROM) ialah pecahnya ketuban sebelum partus yaitu bila pembukaan pada premi dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm. (Rustam Mochtar, 1998)


Etiologi

Penyebab ketuban pecah dini memiliki dimensi multifaktorial yang sanggup dijabarkan sebagai berikut:
  • Serviks inkompeten.
  • Ketegangan rahim berlebihan: kehamilan ganda, hidramnion.
  • Kelainan letak janin dalam rahim: letak sungsang, letak lintang.
  • Kemungkinan kesempitan panggul: serpihan terendah belum masuk PAP.
  • Infeksi yang menyebabkan terjadinya proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proleolitik sel sehingga memudahkan ketuban pecah.

Patofisiologi

Infeksi dan inflamasi sanggup menyebabkan ketuban pecah dini dengan menginduksi kontraksi uterus dan atau kelemahan fokal kulit ketuban . Banyak mikroorganisme servikovaginal, menghasilkan fosfolipid C yang sanggup meningkatkan konsentrasi secara local asam arakidonat, dan lebih lanjut menyebabkan pelepasan PGE2 dan PGF2 alfa dan selanjutnya menyebabkan kontraksi miometrium . Pada nanah juga dihasilkan produk sekresi jawaban acara monosit/makrofag , yaitu sitokrin, interleukin 1 , factor nekrosis tumor dan interleukin 6. Platelet activating factor yang diproduksi oleh paru-paru janin dan ginjal janinyang ditemukan dalam cairan amnion , secara sinergis juga mengaktifasi pembentukan sitokin. Endotoksin yang masuk kedalam cairan amnion juga akan merangsang sel-sel disidua untuk memproduksi sitokin dan kemudian prostaglandin yang menyebabkan dimulainya persalinan.

Adanya kelemahan local atau perubahan kulit ketuban ialah mekanisme lain terjadinya ketuban pecah dini jawaban nanah dan inflamasi . Enzim bacterial dan atau produk host yang disekresikan sebagai respon untuk nanah sanggup menyebabkan kelemahan dan rupture kulit ketuban . Banyak tanaman servikoginal komensal dan patogenik memiliki kemampuan memproduksi protease dan kolagenase yang menurunkan kekuatan tenaga kulit ketuban. Elastase leukosit polimorfonuklear secara spesifik sanggup memecah kolagen tipe III papa manusia, membuktikan bahwa infiltrasi leukosit pada kulit ketuban yang terjadi lantaran kolonisasi basil atau nanah sanggup menyebabkan pengurangan kolagen tipe III dan menyebabkan ketuban pecah dini.

Enzim hidrolitik lain , termasuk katepsin B , katepsin N, kolagenase yang dihasilkan netrofil dan makrofag , nampaknya melemahkan kulit ketuban . Sel inflamasi insan juga menguraikan aktifator plasminogen yang mengubah plasminogen menjadi plasmin , potensial , potensial menjasi penyebab ketuban pecah dini.
  • Terjadi penbukaan premature serviks.
  • Membrane terkait dengan pembukaan terjadi: selaput ketuban tidak besar lengan berkuasa sebagai jawaban kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi.
  • Bila terjadi pembukaan serviks maka selaput ketuban sangat lemah dan gampang pecah dengan mengeluarkan air ketuban.
  • Melemahnya daya tahan ketuban dipercepat dengan nanah yang mengeluarkan enzim: enzim proteolitik dan enzim kolagenase.

Pathway KPD

Untuk mendownload pathway KPD Doc DISINI


Manifestasi klinis
  • Keluar air ketuban warna putih keruh, jernih, kuning, hijau atau kecoklatan sedikit-sedikit atau skaligus banyak.
  • Dapat disertai demam bila sudah ada infeksi.
  • Janin gampang diraba.
  • Pada investigasi dalam, selaput dalam sudah tidak ada air ketuban, sudah kering.
  • Inspekulo: tampak air ketuban mengalir atau selaput ketuban tidak ada dan air ketuban sudah kering.
Komplikasi ketuban pecah dini
  • Infeksi intrapartum (korioamnionitis)
  • Persalinan preterm, jikalau terjadi pada usia kehamilan preterm
  • Prolaps tali pusat
  • Oligohidamnion

Pemeriksaan diagnostic
  1. Ultrasonografi : ultrasonografi sanggup mengidentifikasikan kehamilan ganda, anomaly janin, atau melokalisai kantong amnion pada amniosintesis. 
  2. Amniosintesis : cairan amnion sanggup dikirim ke laboratorium untuk penilaian kematangan paru janin.
  3. Pemantauan janin : membantu dalam mengevaluasi janin.
  4. Protein C-reaktif : peningkatan protein C-reaktif serum memperlihatkan peningkatan korioamnionitis.
  5. Histopatologi : cairan ditampung dalam tabung reaksi kemudian dibakar hingga tertinggal endapan tersebut dilihat dibawah mikroskop dan bila air ketuban mengalami kelainan maka akan terlihat menyerupai daun pakis.
  6. Kertas lakmus : bila merah memperlihatkan cairan mengandung urine yang bersifat asam, bila biru memperlihatkan cairan mengandung air ketuban yang bersifat basa.

Penatalaksanaan

a. Penanganan umum:
  • Konfirmasi usia kehamilan,kalau ada dengan USG
  • Lakikan investigasi inspekulo untuk menilai cairan yang keluar (jumlah, warna, bau) dan membedakannya dengan urin. Dengan investigasi tes lakmus,bila kertas lakmus biru memperlihatkan air ketuban (basa), dan bila kertas lakmus merah memperlihatkan cairan urine (asam)
  • Jika ibu mengeluh perdarahan pada simpulan kehamilan (setelah 32 minggu), jangan melaksanakan menit investigasi dalam secara digital
  • Tentukan ada tidaknya infeksi
  • Tentukan gejala inpartus
b. Penanganan khusus:

Konfirmasi diagnosis:
  • Bau cairan ketuban yang khas
  • Jika keluarnya cairan ketuban sedikit-sedikit, tampung cairan yang keluar dan nilai 1 jam kemudian
  • Dengan speculum DTT, lakukan investigasi inspekulo, nilai apakah cairan keluar melalui ostium uteri atau terkumpul di forniks posterior. (Prawirohardjo, 2002)
c. Penanganan konservatif:
  • Rawat di rumah sakit
  • Berikan antibiotic (ampisilin 4 x 500 mg atau erittromisin bila tidak tahan ampisilin) dan metronidazol 2 x 500 mg selama 7 hari
  • Jika umur kehamilan < 32 – 34 minggu, dirawat selama air ketuban masih keluar atau hingga air ketuban tidak keluar lagi
  • Jika usia kehamilan 32 -37 minggu, belum inpartu, tidak ada infeksi,tes busa negative; beri deksametason, observasi gejala nanah dan kkesejahteraan janin, terminasi pada kehamilan 37 minggu
  • Jika usia kehamilan 32 – 37 minggu, sudah inpartu,tidak ada infeksi, berikan tokolitik (salbutamol), deksametason dan induksi setelah 24 jam
  • Jika usia kehamilan 32 -37minggu, ada infeksi, beri antibiotic dan lakukan induksi
  • Nilai gejala nanah (suhu, lekosit, gejala nanah intra uterin). Klien dianjurkan pada posisi trendelenburg untuk menghindari prolap tali pusat.
d. Penanganan aktif:
  • Kehamilan >37 minggu, induksi dengan oksitosin, bila gagal seksio sesarea. Dapat pula diberikan misoprotal 50 μg intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali
  • Bila ada gejala nanah berikan antibiotic takaran tinggi dan persalinan diakhiri:
  • Bila skor pelvic < 5, lakukan pematangan serviks kemudian induksi, jikalau tidak berhasil, akhiri persalinan dengan seksio sesarea
  • Bila skor pelvic > 5, induksi persalinan, partus pervaginam. (prawirohardjo, 2002)

Asuhan Keperawatan 

Kasus

Ny. M 26 tahun GI Po Ao usia gestasi 40 minggu. Masuk RS 27 juni 2018 jam 09:45 WIB. Dan anda melaksanakan pengkajian pada jam 10:00 WIB. Dx medis PROM dari pemeriksan lab darah positif terdapat citra menyerupai pakis dari cairan yang diambil pervaginam. Pemeriksaan VT pembukaan I ketuban telah pecah warna jernih. Blood slym (negatif) kien mengeluh mulas-mulas semenjak tadi malam setelah sholat magrib. Klien mengaku cemas dengan keaadaannya. Klien menyatakan supaya bayinya sanggup lahir dengan selamat. His 1X10 menit durasi 20 menit. TD 100/70 mmHg. Nadi besar lengan berkuasa teratur 80x/menit.T 37,0 oC. Tampak klien berkeringat banyak, baju klien lembap dan lembab.



Pengkajian


1. Identitas pasien
  • Nama   : Ny. M
  • Umur   : 26 tahun
2. Keluhan utama
  • Ny.M mengeluh mulas-mulas semenjak tadi malam setelah solat maghrib 
  • Ny.Y mengeluh c emas dengan keadaannya
  • Ny.Y menanyakan apakah bayinya sanggup lahir dengan selamat.
3. Riwayat obstetric

a. Riwayat haid
  • Menarche :  16 tahun
  • Siklus       :   28 hari
  • Durasi       : 1 minggu
b. Riwayat kehamilan sekarang

c. Kehamilan ke : I

d. HPHT            : 11 September 2017

e. HPL               :26 Juni 2018

4. Pemeriksaan umum:
  • tinggi tubuh : 160
  • berat badan  : 56
  • TTV :-TD :100/70 mmHg, N :  80x/mnt, RR : 20x/mnt dan T :  37,0 c
5. Pemerisaan penunjang :
  • leukosit : 13 ribu mm3 (13.30)
  • pemeriksaan air ketuban : tampak citra menyerupai pakis dari cairan ketuban


Analisa Data :


No.
Data yang di dapat
Masalah keperawatan
1.
Ds :- klien memengaku cemas dengan keadaannya
-          klien menyatakan supaya bayinya sanggup lahir dengan selamat.
Do ; -
 cemas
2.
Ds : -
Do :-klien tampak berkeringat banyak
       -baju klien lembap dan lembab
Kekurangan volume cairan
3.
Ds: klien mengeluh mulas-mulas semenjak tadi malem setelah sholat magrib.
Do: investigasi VT pembukaan 1, ketuban telah pecah, warna jernih

nyeri


Diagnosa Keperawatan:
  1. Cemas bekerjasama dengan kurang isu ihwal kehamilan
  2. Resti nanah bekerjasama dengan peningkatan pemajanan mikroorganisme
  3. Kekurangn volume cairan bekerjasama dengan diaforesis meningkat

Intervensi Keperawatan

NO
Diagnosa Keperawatan
Tujuan/ criteria hasil
Intervensi
Rasional
1
Cemas b/d kurangnya isu ihwal kehamilannya.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1x30 menit klien bisa memperlihatkan berkurangnya rasa cemas dan bisa mengatasi koping dengan criteria hasil:
Ø  Menggunakan teknik pernafasan dan relaksasi dengan efektif
Ø  Mengungkapkan pemahaman situasi individu dan kemungkinan hasil lahir
Ø  Tampak rileks; TTV ibu dalam batas normal:
TD:120/90mmHg
Nadi: 70-100x/menit
RR: 20x/menit

1.      Jelaskan mekanisme intervensi keperawatan dan tindakan.pertahankan komunikasi terbuk;diskusikan dengn klien kemungkinan imbas samping dan hasil pertahankan sikap optimistic
2.      Orientasikan klien dengan pasangan pada lingkungan persalinan
3.      Anjurkan teknik relaksasi







4.      Anjurkan pengungkapan rasa takut atau masalah


5.      Pantau tanda vital ibu dan janin
1.     Pengetahuan ihwal bantalan an untuk aktifitas ini sanggup menurunkan rasa takut dari ketidaktahuan







2.     Membantu klien dan orang terdekat merasa gampang dan lebih nyaman disekitar kita
3.     Memungkinkan klien mendapat kemungkinan maksimum dari periode istirahat: mencegah kelelahan otot dan memperbaiki fatwa uterus
4.     Dapat membantu menurunkan ansietas dan merangsang identifikasi sikap koping
5.     Tanda vital klien dan janin sanggup berubah lantaran ansietas. Stabilisasi sanggup memperlihatkan penurunan tingkat ansietas/
2
Resti nanah b/d peningkatan pemajanan mikro organisme
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1x 30 menit dibutuhkan klien sanggup terbebas dari nanah dengan criteria hasil:
·   suhu tubuh normal: 370 C
·   jumlah leukosit normal (5000-10000/mm3)
·   cairan amniotic jernih, hampir tidak berwarna dan berbau
1.      Lakukan investigasi vagina awal: ulangi bila kontraksi atau sikap klien menunjukan kemajuan persalinan bermakna
2.      Tekankan pentingnya basuh tangan yang baik dan tepat
3.      Gunakan teknik aseptic selama investigasi vagina



4.      Pantau suhu, nadi, pernafasan. SDP sesuai indikasi






5.      Pantau dan gambarkan aksara cairan amniotik
1.      Pengulangan investigasi vagina berperan dalam insisen nanah asenden





2.      Menurunkan resiko yang memerlukan atau menyebar biro
3.      Membantu mencegah pertummbuhan bakteri: membatasi kontaminasi dari pencapaian kevagina
4.      Dalam 4 jam membrane rupture, insiden karioamnionitis meningkat secara progresif, ditunjukkan dengan meningkatkan TTV dan SDP
5.      Pada nanah cairan amniotic menjadi lebih kental dan kuning pekat dan busuk besar lengan berkuasa dan sanggup dideteksi


Implementasi Keperawatan

NO Dx
Tanggal jam
Implementasi
Respon
Ttd
1
26 juni 2018
jam 13.30 wib
1.   Ajarkan pada klien ihwal pentingnya personal hygiene

2.   Berikan anti biotik dan anti infektikum
3.   Kaji pada kawasan vagina
1.   Klien mengerti dan bisa melaksanakan personal hygiene dengan baik
2.   Klien bisa di ajak bekerja sama
3.   Klien bebas dari infeksi

2
26 juni 2018
jam 13.30 wib
1.   Mengukur tingkat kecemasan denagn melihat tanda fisik pada ibu serta mengukur TTV
2.   Memberikan suport yang adekuat dengan cara meminta pasangan berada disamping ibu selama pemeriksaan
3.   Mengajarkan teknik nafas dalam dan teknik relaksasi


4.   Mengurangi kecemasan ibu dengan memberi isu yang adekuat ihwal proses persalinan yang dihadapi
5.   Mengurangi kecemasan ibu ndengan memperlihatkan informasai ihwal prosedur  penatalaksanaan selama persalinan
1.   Klien tampak hening dalam pemeriksaan


2.   Pasangan (suami) mendampingi klien dikala investigasi dan ibu tampak lebih nyaman

3.   Klien bisa memakai teknik nafas dalam sehingga cemas sanggup diminimalkan
4.   Psikologis ibu tampak kembali lebih normal dan ibu tampak lebih tenang


5.   Klien menyampaikan merasa hening setelah mendapat isu yang telah diberikan

3
26 juni 2018
jam 13.30 wib
1.   Mengukur intake dan output cairan sesuai dengan kebutuhan tubuh
2.   Menimbang BB
3.   Mengukur tingkay pengetahuan ibu ihwal pentingnya cairan tubuh dalam persalinan
                   
1.      Kebutuhan cairan pada klien tampak terpenuhi

2.      Klien mau bekerjasama
3.      Klien bisa mengungkapkan kebutuhan cairan bagi dirinya sendiri



Evaluasi

Langkah terakhir dari proses keperawatan ialah mengadakan penilaian atau tindakan yang telah dilakukan berikut ini hasil penilaian untuk masing-masing diagnosa

1. Resiko tinggi terhadap nanah bekerjasama dengan ketuban pecah dini
  • Evaluasi : Tidak ada gejala infeksi
2. Gangguan rasa nyaman nyeri bekerjasama dengan kontraksi uterus

Evaluasi :
  • Klien menyampaikan tidak nyeri lagi
  • Klien tampak lebih nyaman
3. Intoleran aktifitas bekerjasama dengan keterbatasan mobilitas fisik
  • Evaluasi : Klien sanggup melaksanakan aktifitas

Daftar Pustaka
  • Doengoes, M. 1996. Rencana Asuhan perawatan maternal bayi. Jakarta: EGC
  • Manuaba, Ida Bagus Gde. 1998. Ilmu kebidanan, penyakit kandun gan dan keluarga berencana untuk pendidikan bidan. Jakarta: EGC
  • Mochtar, R, 1998. sinopsis obstetric, jilid I. Jakarta: EGC
  • Prawirohardjo, S. 2002. buku contoh nasional pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, Jakarta: Bina Pustaka FKUI
  • Prawirohardjo, S, 2002. buku panduan mudah pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Jakarta: Bina Pustaka FKUI
  • Taber, M.D, 1994, Kedaruratan obstetric dan ginekologi. Jakarta: EGC
Untuk download askep KPD format doc dan pdf silahkan dibawah.
Demikian Askep pada pasien dengan perkara KPD lengkap,  download pdf dan doc kami bagikan, semoga bisa menjadi refferensi teman-teman sekalian dalam pembuatan askep ataupun laporan pendahuluan. Terima kasih.
Ahmad hidayat
Ahmad hidayat

Previous
Next Post »